Senin, 28 Oktober 2013

BIROKRASI sebuah bentuk lain PUNGUTAN LIAR para SARJANA



Hari ini, tepatnya tanggal 28 Oktober 2013, oh iya tepat dengan hari sumpah pemuda sekolah kami mengadakan upacara bendera. Upacara bendera pertama di lapangan kami yang baru selesai dibuat dari sumbangan BANSOS DIKNAS PUSAT bersama dengan dibuatnya kelas 11 IPA 1 , 11 IPA 2 , dan LAB Fisika. Dan apa yang terjadiiiiiii, seperti kebiasaan lama yang sudah hampir tidak pernah terjadi, banyak anak-anak yang berjatuhan satu persatu. Badan-badan yang lena pun di gotong menuju kelas 11 IPA 2 karena lokasi lapangan memang tepat di depannya. Awalanya seperti biasa saja, layaknya anak-anak yang sakit karena tidak tahan berdiri lama-lama. Tapi setelah beberapa menit bu Y teriak-teriak minta tolong karena ada anak yang ngamuk. Coba tebak kenapa? Ya begitulah tingkah anak-anak sini, histeria dan kesurupan masal. Entah mereka benar-benar kesurupan atau hanya sekedar acting belaka aku tidak tau, yang jelas aku ga pernah percaya kalau mereka beanar-benar kesurupan.

Ngomong-ngomong tentang kesurupan, itu si anak-anak yang sudah komat-kamit di bacain doa sama pak guru jadi tiba2 diem dan tanya kenapa ada disini ? wow super sekali yaaaa anak anak ini. Tadiany mereka ngamuk-ngamuk. Panaaasssss, panaaaaasss,,, jangan ganggu sayaaa.... (versi bahasa sunda). Awal-awal aku ngajar di sini sih agak kaget ngeliat langsung anak-anak yang histeria masal macam begitu. Tapi lama-lama kami terbiasa melihat kejadian ini. Dan percaya ga percaya, anak-anak itu ga harus di doain biar sadar. Ya cukup si sembur pake air n di omelin biar diem hahahahha. Ah sudahlah, lupakan tentang kesurupan masal yang sudah cukup fenomenal di Indonesia ini. Sebenernya aku ga pengen nulis tentang ini eh malah ngelantur kemana-mana hahahahaha. 

Jadi sudah hampir tiga tahun ini aku mengabdi di sebuah SMA yang berada di ujung barat kabupaten Bogor. Tepat tanggal 1 januari 2011(aslinya tanggal 22, tapi di sk nya tanggal 1) aku ditugaskan untuk mengabdi di sekolah ini bersama 4 orang lainya yang sekarang sehari-harinya menjadi rekan kerjaku hohoho. Jadi tepatnya aku sudah 2 tahun 10 bulan bekerja di sekolah ini. Dan dengan penuh semangat aku dan rekan kerjaku selalu berusaha menjujunjung idealisme-idealisme yang sudah melekat pada kami semenjak kami duduk di bangku kuliah. Tapi kenyataanya, idealisme itu tumbang satu-persatu tergilas sistem, dan apa yang bisa kami lakukan? !. melawan arus dan semakin hancur lebur , berdiam diri dan membiarkan semuanya terjadi atau keluar dari sistem. Pilihan pertama tak akan pernah membuat sistem itu berubah  sedangakan pilihan ketiga tidak akan pernah ku lakukan karena menjadi sipil nya pemerintah adalah sumber mata pencaharianku. Aku ga mungkin keluar dari pekerjaan ini. Toh mengajar itupekerjaan yang lama-kelaman membuat aku senang dan memegang amanah dari banyak orang tua untuk mendidik anaknya.


Jadi aku terpaksa mengambil plihan yang kedua, dengan berdiam diri dan melihat semuanya terjadi tanpa perlawanan. Sistem yang sudah terbentuk kuat dari atas akan sangat sulit dihentikan apalagi dihancurkan. Butuh waktu yang lama dan massa yang banyak dalam waktu yang sama untuk melawanya, dan itu bukan hal yang mudah untuk diperoleh. Dan ngomong apasih aku dari tadi aduuuuuhhhh hahahahah.... langsung aja deh ke contoh nyata, perasaan kok nulis serius amata dari tadi hoooooooooaaaaaah hahahahahha (gila kali gw ya).

Jadi hari ini itu, untuk kesekian kalinya aku mau mengambil hak ku tapi harus bayar. Ya bayar ke sistem itu lho, sistem yang kata mereka emang udah begitu dari sananya, ya dari dulu klo mau dapet ini eang harus bayar segini, dari dulu klo kita mau ngajuin itu emnag harus bayar segitu. Ntar kalo sekolah kita sendiri yang ga bayar ya sekolah kita aja yang gak akan di kasih ACC dan tertinggal. Wow sebegitukah, bener ga kata-kata salah seorang yang bertugas menghubungkan kami (para guru ) ke embaga struktural yang selalu berurusan dengan adminidtrasi karir kami (DINAS PENDIDIKAN) 

Sudah dua minggu kami sibuk poto kop ini dan itu, mencari berkas ini dan itu, sampe muka kita pada kusut (suer ini bukan hiperbola) hhahahaha. Kami menyadari memang ini kewajiban kami, jika ingin naik  gaji, ya kami harus mengajukan usulan kenaikan pangkta yang bisasa disebut DUPAK,(Daftar Usulan Perhitungan Angka Kredit) kalo ga salah, dan disertai berkas-berkas bukti yang dibutuhka. Dan setelah kami semua menyelesaikanya, coba apa yang terjadi, wow wow wo banget deh saudara saudara, staf kami bilang “kalo mau di acc paling tidak harus sedia uang RP 50. 000,- untuk masing-masing guru, klo ngga berkas kita bakal di terlntarkan “. Begitu terpukulnya saya mendengar semua itu, gilaaaaak kali ya mereka, 50 ribu dikalikan berapa orang guru yang mengajukan kenaikan pangkat setiap tahunya, banyak banget proyek- proyek mereka yang memenfaatkan hak kami. Hak kami yang seharusnya tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun untuk memperolehnya, dan apa boleh buat aku pun harus membayar dengan sangat terpaksa. 50 rbu uang melayang ke kantong orang-orang yang menurut aku sama sekali gak berhak untuk itu. T.T (mewek seharian)

Pemalakan liar ini bukan untuk yang pertama kalinya, sebelumnya udah serng terjadi. Untuk setiap pencairan tunjangan tertentu yang kami dapat mereka memotongnya semena-mena. Ya walaupun itu hanya 25-50 ribu, kalau dikalikan dengan ratusan orang maka akan menjadi uang haram yang jumlahnya buanyaaaaak. Coba bikin karpeg diminta 25. 000. Dan masih banyak yang lainya lagi  sampe aku lupa apa aja.

Sebenernya yang masih aku pertanyakan itu, beneran engga ya, orang dinas yang minta segitu 25.000 atau 50.000 buat merea, atau masih banyak catut-catut an di jalanan birokrasi Indonesia  ini. Jadi kepikiran sekali-kali mau nyoba apa jadinya kalo aku sendiri yang ga ikut bayar, apakah aku bener-bener terhambat sendiri dan ga akan ikut melangkah bersama yang lain. Apa mereka bener-bener penyedia layanan yang hanya bisa jalan klo sudah mengambil pungutan liar dari kami??? Dan apapun alasanya, semua yang aku tulis didini adalah fakta. Fakta dimana aku sendiri adalah korban yang mengalaminya. Kapan coba birokrasi Indonesia bisa benar-benar bersih dan berjalan tanpa embel-embel uang adm yang lebih pantas aku sebut sebagai pungutan liar dari orang-orang bergelar sarjana. Sungguh terpuruknya negeri ku ini ya Allah.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar